Beranda » Syakkhshiyyah Islamiyyah

Category Archives: Syakkhshiyyah Islamiyyah

Iklan

KHUTBAH JUMAT MEMAKNAI WAKTU

Al-Fajr depan-1

MEMAKNAI WAKTU 20121203-WAKTU.-memaknai waktu

SITUSARA-http://arozakabuhasan.wordpress.com/
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِ يْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin rahimakumullah
Puji syukur hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. syukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat iman, nikmat pergantian siang dan malam dan kesehatan.

Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah iman dalam hati kita, yang dengan hidayah tersebut, Dia telah menggerakkan kita untuk melangkahkan kaki menuju masjid ini; berkumpul bersama untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at. Semoga Allah menerima amal ibadah kita sebagai ibadah.

Shalawat serta salam semoga Allah curahkan selalu kepada junjungan kami Rasulullah SAW, kepada para sahabat, pengikutnya hingga akhir zaman; amin ya Robbal alamin.
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia.
Selanjutnya, izinkanlah khatib mengingatkan kita semua termasuk diri khotib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena tidak ada bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak kecuali taqwa.

Tidak ada pula derajat kemuliaan yang pantas disematkan kepada seseorang kecuali derajat ketaqwaan. Dengan taqwa kepada Allah inilah kita berupaya menjalani kehidupan sehari-hari kita.
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia.

Dalam surat Ali Imran 3: 190-191:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(191)
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Hadirin Rahima kumullah.
Memikirkan tentang waktu, tentang pergantian siang dan malam pada dasarnya juga memikirkan semua peristiwa yang terjadi disiang dan malam, bahkan disetiap detik kehidupan. Semua peristiwa yang terjadi dapat berulang, namun waktu tidak pernah berulang bahkan tidak pernah menungguh, karenanya semua peristiwa, semua kejadian, semua kewajiban patut untuk selalu kita simak, kita renungkan; sudahkah kewajiban, telah dilakukan sebagaimana mestinya; apakah peristiwa yang terjadi, atau peristiwa yang kita lakukan, atau sudahkah prestasi atau kesia-siaan atau kerugian dalam setiap gerak laku dan perbuatan kita sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw dan bernilai ibadah.

Sesungguhnya pada diri Rasulullah SAW sebagai teladan dalam seluruh hidup dan kehidupan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21)
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab [33] : 21)

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa mereka yang meneladani Rasulullah SAW adalah mereka yang lurus Tauhidnya kepada Allah. Mereka yang selalu mengharapkan keridhaan Allah dan balasan terbaik di kampung akhirat. Mereka yang menghiasi hari-harinya dengan banyak mengingat Allah SWT.

Ma`asyiral muslimin rahimakumullah… Karena itu, marilah kita meneladani seluruh aspek kehidupan Rasulullah Saw. yang dijamin keteladanannya oleh Allah Swt. dalam kita menjalani detik demi detik kehidupan ini.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَara-kecil
KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:

Jamaah shalat jum’at yang berbahagia QS.103:
وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati untuk kebenaran dan nasehat menasehati untuk kesabaran.

Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia. Dalam ayat di atas :
Allah bersumpah: Demi waktu, demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Karenanya marilah kita meningkatkan iman dan taqwa kita dengan sebenar-benar iman dan sebenar-benar taqwa, agar kita tidak berada dalam kerugian.

Dan semoga kita selalu mau untuk saling ingat-mengingatkan diantara kita, dan tidak jemu serta tidak merasa dirinya lebih baik dalam nasehat-menasehati.
Semoga dengan upaya kita yang sungguh-sungguh dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah SAW, dan menjadikan sunnah tersebut sebagai manhajul hayah (cara hidup) kita, Allah SWT memberikan keberkahan dan keselamatan dalam kehidupan kita dunia-akhirat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita berdoa, memohon kepada Allah Swt. :

Ya Allah pelihara iman kami dan berikan kepada kami kesempatan merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini yaitu dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah saw. dengan sebaik-baiknya, sebelum Engkau panggil kami untuk menghadap-MU.

• Ya Allah peliharakan hati dan pendengaran kami agar tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang merusak amal ibadah yang telah dan akan kami lakukan.
• اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan; Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan; Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampunan; Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat; Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki; Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir;

• اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

• رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من
الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم

Assalamu`alaikum Wr. Wb

20121203-WAKTU–MEMAKNAI WAKTU
KHOTBAH JUMAT
MATERI
MEMAKNAI WAKTU
Masjid Al-Fajr
Bandung
SUMBER:
BERBAGAI SUMBER
Di edit untuk Khutbah Jumat / Tausiyah
Oleh :
H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

http://arozakabuhasan.wordpress.com/

20121203

 

Iklan

SERTIFIKASI ULAMA, HARUSKAH ?

Sep 15

SERTIFIKASI ULAMA, HARUSKAH ? IMG
Posting by : A. Rozak Abuhasan

Bandung, Al Fajr, Sabtu (15/9)

Gonjang-ganjing ide sertifikasi ulama cukup menghangat pekan-pekan terakhir ini. Sertifikasi bukan sembarang sertifikasi, yang menjadi hangat dan heboh diperbincangkan karena yang akan disertifikasi adalah ulama. Haruskan Ulama disertifikasi?

Kaitan dengan ini wartawan Republika berhasil menghubungi Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), K.H. Athian Ali M. Da`i, MA (Senin 10/9) terkait Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengusulkan adanya sertifikasi bagi para pemuka agama Islam di Indonesia sebagai bagian dari proses deradikalisasi.

Ketua FUUI, Athian Ali menilai ide tersebut semakin memperkeruh hubungan antara kelompok ulama dengan pemerintah. Ini sudah semakin menohok dan menyudutkan para ulama. Dengan ide itu seakan-akan para ulama menjadi dalang dari adanya aksi terorisme di Indonesia, tegasnya.

Athian menambahkan selama ini para ulama sudah bersabar sekian lama karena kerap dituding terlibat dalam kasus-kasus terorisme di Indonesia. Kemudian muncul ide harus diadakannya sertifikasi bagi para ulama dari BNPT, menurutnya sudah sangat “menghina dan melecehkan” para ulama. Ide untuk sertifikasi para ulama, ia melanjutkan, merupakan sebuah fitnah dari pemerintah melalui BNPT yang dianggap memberikan ajaran-ajaran kekerasan hingga menimbulkan terorisme.

Adanya ide inipun akan semakin memojokkan Islam dalam pemberantasan terorisme. Untuk menanggapi adanya ide sertifikasi para ulama tersebut, FUUI akan membentuk tim independen untukmelakukan investigasi terkait kasus-kasus terorisme pada bulan ini.

Hasil dari tim ini akan diberikan kepada pemerintah sebagai masukan alternatif. Sehingga pemerintah tidak hanya mendapat masukan dari satu pihak saja dalam hal ini BNPT. “Pemerintah harus mendengarkan lebih banyak masukan. Ini jelas-jelas sudah sangat memojokkan umat Islam”, tegasnya.

Demikian hasil wawancara melalui sambungan telepon yang dimuat Republikaonline (Senin 10/9).

Sementara itu, pada hari yang sama (Senin, 10/9), melalui BJ:UstGrup yang disebar melalui sms, Athian Ali mengatakan: sudah lama saya mengusulkan :

Para Ulama & Ilmuan Muslim berkumpul untuk membentuk “Tim Investigasi Anti Terorisme”, diantara yang harus diinvestigasi adalah BNPT yang nampak begitu gencar menyebarkan fitnah-fitnah keji kepada Islam & para ulama;

Ummat di berbagai daerah, atau disatukan di Jakarta, hanya untuk “satu” agenda, “Berdoa kepada Allah SWT” agar Allah SWT memberikan hidayah, atau segera menurunkan azab kepada para dalang Terorisme di Indonesia dan embahnya di AS, agar fitnah keji kepada Islam dan Ummat Islam ini segera berhenti. Supaya mereka sadar, kita tidak rela difitnah terus seperti ini

Banyak respon positif sebagai dukungan dari berbagai pihak atas edaran sms ini untuk mewujudkan usulannya, ungkap Athian. ***(Tardjono Abu Muas)

KHUTBAH JUMAT : JAUHI PRASANGKA BURUK http://arozakabuhasan.wordpress.com/

KHUTBAH JUMAT : JAUHI PRASANGKA BURUK

http://arozakabuhasan.wordpress.com/


KHOTBAH JUMAT

MATERI

Jauhi Prasangka Buruk

Masjid Al-Fajr
Bandung

SUMBER:

http://www.minbarindo.com/Akhlak_Dan_Moral/Jauhi_prasangka_buruk.aspx

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah

Oleh :

H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

http://arozakabuhasan.wordpress.com/

2012-06-09

KHOTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُبِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وِمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّهُمَّ صَلِّى عَلىَ مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَصَحـْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُونَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ (3:102)
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً
وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا 4:1
قال الله تعالى : {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ}

Jama’ah jum’at yang di muliakan Allah Swt ….
Puji dan syukur hanya tertuju kepada Allah Swt. Dialah satu-satuNya dzat yang berhak menerima segala pujian dan ungkapan syukur. Karunia dan rahmatNya telah banyak kita nikmati, hidayah dan ‘inayahNya telah banyak kita rasakan. Kesyukuran hakiki hanya dapat diwujudkan dalam bentuk kesiapan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua larangan-Nya. Tanpa itu maka kita termasuk orang-orang yang ingkar nikmat.
Salam dan shalawat kita sampaikan dan kirimkan kepada Nabi Muhammad Saw. Nabi yang telah memperjuangkan agama islam di waktu siang dan malam, di kala sempit dan lapang. Dia mendakwahkan islam tanpa mengenal ruang dan waktu. Dia telah menunaikan amanah, memberikan nasehat kepada ummat, dan ia telah berjihad dijalan Allah Swt dengan sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya, hingga ia meninggalkan ummat ini dalam keadaan telah tercerahkan dengan nur hidayah, dan cahaya taufik dari Allah Swt. Tidaklah seseorang meniti jalan lain melainkan ia akan menjadi sesat didunia dan binasa diakhirat.

Jama’ah shalat jum’at rahimakumullah ….
Membagun komunikasi dan menjalin hubungan dengan orang lain menjadi keharusan dalam kehidupan seorang di dunia ini. Setiap muslim harus membangun komunikasi dengan orang lain untuk melaksanakan perintah Allah fastabihul hairat. Namun perlu disadari bahwa membangun hubungan yang sinergi dan harmonis tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Ia memerlukan ketulusan niat, kelapangan dada, dan fleksibiltas yang tinggi. Hubungan harmonis mengharuskan seseorang membersihkan hatinya dari semua penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, hasad dan lainnya. Wajah yang berseri, senyuman yang tulus dan sikap pemaaf sangat berperan besar dalam mengharmoniskan hubungan antar sesama hamba Allah Swt.

Prasangka buruk terhadap sesama termasuk batu sandungan yang besar dalam menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Ia seharusnya tidak diberi ruang sekecil apapun dalam hati setiap pribadi muslim. Sebab kemunculannya tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali perselisihan dan pertengkaran yang tak berujung.

Jama’ah jum’at yang berbahagia ….
Kalau memperhatikan dan merenungi realita hubungan dan komunikasi antar sesama kaum muslimin dewasa ini, pasti akan merasa bersedih dan prihatin karena hubungan komunikasi yang telah terputus dan tali persaudaraan pun telah tercerai-berai. Seluruhnya disebabkan oleh kumpulan prasangka, keraguan, kekhawatiran dan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar. Berapa banyak majlis-majlis ilmu atau pertemuan-pertemuan yang berubah menjadi majlis ghibah, materi kajiannya berpusat pada fulan mengatakan ini,.. fulan mengucapkan itu..fulan berbuat ini…. Fulan melakukan itu…semuanya hanya didasarkan pada prasangka belaka.

Bermula dari prasangka buruk, lalu berkembang menjadi tuduhan dusta, dilanjutkan dengan upaya mencari-cari kesalahan orang lain, berakhir dengan ghibah, kemudian di tutup dengan hujatan, cercaan dan makian. Allahu al musta’an, berapa banyak terminal-terminal dosa yang di ciptakan oleh prasangka buruk. Hasil yang dipetik dari prasangka buruk berupa pola komunikasi yang terbangun diatas pondasi kedustaan, serang menyerang tudingan, redupnya rasa saling percaya antar sesama, kebencian, permusuhan dan saling memboikot menjadi hal yang lumrah dan biasa, padahal kesemuanya itu menjadi factor-faktor yang melemahkan kaum muslimin dan menghilangkan wibawa mereka di hadapan ummat-ummat lain. Tidak heran jika Allah Swt mengharamkan berprasangka buruk terhadap orang lain dan menggolongkannya sebagai perbuatan dosa.

Firman Allah Swt :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ}
“ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang “. ( Al Hujuraat : 12 )

Ayat diatas berisi seruan bagi kaum muslimin untuk saling menjaga harga diri dan tidak memberikan peluang sedikitpun bagi prasangka buruk bercokol dalam hati. Seorang mukmin tidak pantas merobek-robek harga diri dan kehormatan orang lain hanya karena sebuah prasangka atau issu yang beredar. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abdul Razzaq dari Abu Hurairah dalam kitab Al Mushannafnya menyebutkan etika standar yang wajib di sadari oleh setiap muslim agar tercipta sebuah masyarakat yang harmonis, Rasulullah Saw bersabda :
إياكم والظن، فإن الظن أكذب الحديث، ولا تحسسوا، ولا تجسسوا، ولا تحاسدوا، ولا تدابروا، ولا تباغضوا، وكونوا عباد الله إخوانا
“ hindarilah oleh kalian prasangka buruk, sebab ia termasuk kedustaan besar, janganlah kalian saling menyindir, saling mencari-cari kesalahan, saling memendam rasa dendam, saling berselisih, dan saling bertengkar, namun jadilah kalian orang-orang yang bersaudara “.

Sekali lagi, prasangka buruk tidak akan memberikan sesuatu yang positif walau sekecil apapun, bahkan sebaliknya ia hanya memicu lahirnya sikap permusuhan, perselisihan, memutuskan hubungan yang baik, meretakkan ikatan kekeluargaan, dan menghancurkan solidaritas dan persaudaraan sesama kaum muslimin.
Orang-orang yang mengikhlaskan dirinya menjadi korban prasangka buruk senantiasa akan terjerembab kedalam perbuatan dosa yang tak terbatas, sebab satu perbuatan dosa akan mengundang dan memaksa pelakunya untuk melakukan perbuatan dosa yang lain, hukuman akhiratnya pun akan semakin berat. Mari kita coba renungkan firman Allah Swt berikut ini :
{إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ* وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ * وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ * وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ * وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ * فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ * عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ * هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ }
“ Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan “. ( Al Muthaffifiin : 29-36 )

Ulama tafsir mengatakan bahwa : “ orang-orang yang dianggap oleh orang-orang musyrik sebagai orang-orang jahat adalah mereka yang menyatakan keislaman dan keimanan mereka, mereka menghina kaum muslimin dan menganggap mereka tidak pantas mendapatkan kenikmatan dan kebaikan dari Allah Swt. Akan tetapi di kehidupan akherat kelak, orang-orang beriman yang telah menjadi penduduk syurga diberikan kesempatan untuk membalas ejekan dan olok-olokan orang-orang musyrik dengan ejekan dan olokan yang sama.

Jama’ah jum’at yang berbahagia …..
Sebagian ulama mengatakan: “ prasangka yang wajib dihindari oleh setiap muslim adalah semua prasangka yang dialamatkan kepada seseorang yang tidak bermaksiat secara terang-terangan tanpa didukung oleh indikasi-indikasi yang kuat atau petunjuk-petunjuk hukum yang jelas. Namun bagi mereka yang membanggakan diri dengan lumuran dosa dan kemaksiatan mereka, maka prasangka buruk yang dialamatkan kepada mereka tidak termasuk prasangka yang diharamkan”.

Said ibnu Al Musayyib berkata : “ saya menulis sebuah nasehat kepada beberapa sahabat yang isinya berupa ajakan untuk menghukumi orang lain berdasarkan keadaan terbaik baginya selama tidak ada pelanggaran yang jelas, dan jangan kalian menghukumi orang lain hanya dengan satu kalimat yang berbau pelanggaran, selama ucapan tersebut dapat dipahami dengan cara yang baik “.

Sebuah nasehat yang sangat mulia, terutama dalam menyikapi sebuah statement atau pandangan hukum yang di ucapkan oleh mereka yang dikenal sebagai orang-orang yang menjaga diri dari pelanggaran agama secara terang-terangan, disampaikan Ibnu Qayyim dengan tegas dalam sebuah perkataannya : “ sebuah kata terkadang memiliki konsekuensi hukum yang berbeda jika disebutkan oleh dua orang yang berbeda pula. Salah seorang meniatkan kebaikan dan yang lain menginginkan keburukan. Dalam menentukan status hukum kata tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan track record sumber dan biografi orang yang menyebutkannya“.

Maasyiral muslimin rahimakumullah…
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Swt …….
Oleh karena itu, sepatutnyalah setiap pribadi hendaknya senantiasa melakukan muhasabah ( intospeksi ) dan mawas diri terhadap setiap kata yang diucapkan atau setiap hukum yang ditetapkan bagi orang lain. Ingatlah selalu firman Allah Swt :
{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا}
“ dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.( Al Israa’ : 36 )

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:

Jama’ah shalat jum’at yang berbahagia ……
Ada beberapa factor yang mendorong munculnya prasangka buruk dalam hati seseorang, yang terpenting adalah ; lingkungan yang buruk dan tidak baik, termasuk lingkungan rumah tangga, teman sejawat atau para penyembah hawa nafsu. Berapa banyak orang yang dahulunya berkarakter baik dan terpuji akan tetapi berubah menjadi penjahat akibat pengaruh lingkungan keluarga dan pertemanan. Tidak jarang kita dengarkan orang yang dahulunya sangat taat menunaikan kewajiban-kewajibannya namun akibat lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja menjadikannya orang yang paling jauh dari syariat Allah Swt. Rasulullah Saw mewanti-wanti kita dalam mencari teman dan sahabat, karena kuwalitas keberagamaan seseorang akan dipengaruhi oleh kuwalitas keberagamaan sahabatnya.

Jika prasangka buruk memiliki factor pemicu, maka ia pun memiliki penawar dan obat yang dapat menghilangkannya, setidaknya ada dua hal yang perlu kita perhatikan :

Pertama, mendahulukan prasangka baik terhadap sesama, Umar Ibnu Al Khattab berkata : “ jangan engkau berprasangka buruk terhadap setiap kata yang diucapkan oleh saudaramu, selama masih memungkinkan untuk memahaminya dengan positif “.
Kedua, mencari alasan-alasan positif bagi orang lain saat mereka melakukan kekeliruan. Kecuali dalam hal-hal yang telah jelas keharamannya. Tinggalkan upaya mencari-cari kesalahan orang lain.

Kedua obat ini diharapkan mampu mengobati penyakit prasangka buruk jika telah bercokol dalam hati. Khatib berharap semoga kita senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah Swt sehingga kita tetap konsisten berjalan diatas jalan-Nya yaitu Siratol Mustaqim sampai ajal menjemput kita.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita berdoa, memohon kepada Allah Swt. :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمِعِيْنَ

 Ya Allah peliharakan iman kami dan berikan kepada kami kesempatan merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini yaitu dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah saw. dalam setiap langkah kehidupan kami dengan sebaik-baiknya, sebelum Engkau panggil kami untuk menghadap-MU.
 Ya Allah peliharakan hati dan pendengaran kami agar tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang merusak amal ibadah yang telah dan akan kami lakukan.
 Ya Allah jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur, yang dengan syukur itu Engkau tambah-tambah nikmat-Mu. Hindarkan kami dari sifat kufur, agar kami terhindar dari siksa Mu yang amat pedih.
 Ya Allah jauhkanlah kami dari kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan juhkan kami dari kebiasaan mencari-cari keburukan orang dan hindarkan kami dari pada menggunjingkan satu sama lain

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ

 Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan.
 Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan.
 Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampunan.
 Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat.
 Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki.
 Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir
 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
 Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mohon maaf
atas segala kehilafan dan kekurangan.

بَارَكَ اللهُ فِى القُرآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَايَّاكُم بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ والذِّكرِ الحَكِيم, اِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيم فَاستَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْم

Assalamualaikum Wr. Wb.

KHUTBAH JUMAT : INDAHNYA HIDUP DI BAWAH NAUNGAN SIFAT SABAR DAN SYUKUR


KHUTBAH JUMAT : INDAHNYA HIDUP DI BAWAH NAUNGAN SIFAT SABAR DAN SYUKUR

Jun 8

Posted by ABDUL ROZAK ABUHASAN – SERITANJUNG PALEMBANG

KHOTBAH JUMAT

MATERI

Indahnya Hidup di Bawah Naungan
Sifat Sabar dan Syukur

Masjid Al-Fajr
Bandung

SUMBER:

http://www.minbarindo.com/Akhlak_Dan_Moral/Indahnya_Hidup_di_Bawah_Naungan_Sifat_Sabar_Dan_Syukur.aspx

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah

Oleh :
H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

http://arozakabuhasan.wordpress.com/

2012-06-01

KHOTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُبِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا
وِمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُونَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ (3:102)
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً
وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا 4:1
أَمَّا بَعْدُ؛

Kaum muslimin jamaah jumat masjid Al-Fajr rahimakumullah
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan, nikmat rezeki dan kesehatan kepada kita.
Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah itu Allah Swt. telah menggerakkan hati kita untuk melangkahkan kaki kita menuju masjid ini. Sehingga kita bisa berada dalam kebersamaan untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad Saw. Semoga kecintaan kita kepada beliau SAW, dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin.

Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia.
Selanjutnya, izinkanlah khatib mengingatkan kita semua termasuk diri khotib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena tidak ada bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak kecuali TAQWA.
Tidak ada pula derajat kemuliaan yang pantas disematkan kepada seseorang kecuali derajat ketaqwaan… Inna akramakum indallahi atqakum… Dengan taqwa kepada Allah inilah kita berupaya menjalani kehidupan sehari-hari kita.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Sabar dan syukur adalah dua pilar iman yang akan mengantarkan kita sebagai hamba Allah yang paling mengagumkan. Rasulullah saw… bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ رواه مسلم
“Sungguh mengagumkan perihal seorang mukmin. Semua urusannya menjadi baik, dan hal itu tidak terjadi pada seorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapatkan kegembiraan, ia bersyukur, dan hal itu adalah suatu kebaikan baginya. Jika mendapatkan musibah, ia bersabar, dan hal itu adalah suatu kebaikan baginya”.(HR. Muslim)

Sabar sebagaimana kata Ibnul Qayyim rahimahullah- adalah menahan diri jangan sampai panik dan sedih yang berlebihan, menahan lisan jangan sampai berkeluh-kesah, dan menahan anggota badan jangan sampai melakukan tindakan jahil seperti menampar pipi dan menyobek-nyobek baju.
Sabar adalah anugerah terbesar dan terbaik yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Rasulullah saw… bersabda,
وَمَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ )رواه البخاري ومسلم (
“Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Berkat kesabaran seorang hamba akan meraih berbagai kebaikan dan kesuksesan di dunia. Karenanya, Allah memerintahkan kita agar menjadikannya sebagai sarana bantu untuk mewujudkan berbagai kebaikan seraya berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ(153)
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.(Al-Baqarah:153)

Berkat kesabaran, seorang hamba akan mendapatkan pahala yang sempurna tanpa batas. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ(10)
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.(Az-Zumar:10)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Kita harus mampu mewujudkan tiga bentuk kesabaran. Pertama sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menjauhkan diri dari kemaksiatan. Ali bin Thalib ra. berkata,
الصَّبْرُ ثَلاَثَةٌ فَصَبْرٌ عَلَى المُصِيْبَةِ وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَصَبْرٌ عَنِ المَعْصِيَةِ
“Sabar ada tiga; sabar atas musibah, sabar atas ketaatan, dan sabar dari kemaksiatan”.(Uddatu shabirin/1/57)

Kesabaran akan menjadikan kita mampu menghadapi berbagai musibah dan ridha kepada apa yang sudah ditetapkan Allah atas diri kita. Pada saat itulah derajat kita di sisi Allah akan اmengalami kenaikan yang luar biasa. Ali Ra. berkata,
فَمَنْ صَبَرَ عَلَى المُصِيْبَةِ حَتَّى يَرُدَّهَا بِحُسْنِ عَزَائِهَا كَتَبَ اللهُ لَهُ ثَلاَثَمِائَةِ دَرَجَةٍ
“Barangsiapa bersabar atas musibah hingga Allah mengembalikannya dengan kebahagiaan, Allah akan menuliskan untuknya tiga ratus derajat”.

Kesabaran juga akan menjadikan kita mampu melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sebaik-baiknya. Pada saat itulah derajat kita di sisi Allah akan mengalami peningkatan. Ali Ra. berkata,
“وَمَنْ صَبَرَ عَلَى الطَّاعَةِ حَتَّى يُؤَدِّيَهَا كَمَا أَمَرَ اللهُ كَتَبَ اللهُ لَهُ سِتَّمِائَةِ دَرَجَةٍ
“Barangsiapa bersabar atas ketaatan sehingga ia menunaikannya sebagaimana diperintahkan Allah, Allah akan menuliskan untuknya enam ratus derajat”.

Kesabaran akan menjadikan kita mampu menghindarkan diri dari kemaksiatan dan semua yang diharamkan Allah meski nafsu syahwat kita sangat menginginkannya. Kesabaran ini juga akan meninggikan derajat kita di sisi Allah. Ali ra. berkata,
وَمَنْ صَبَرَ عَنِ المَعْصِيَةِ خَوْفًا مِنَ اللهِ وَرَجَاءَ مَا عِنْدَهُ كَتَبَ اللهُ لَهُ تِسْعَمِائَةِ دَرَجَةٍ
“Barangsiapa bersabar dari kemaksiatan karena takut kepada Allah dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, Allah akan menuliskan untuknya sembilan ratus derajat”.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Di samping merealisasikan kesabaran, kita juga harus mampu menghiasi diri kita dengan sikap syukur kepada Allah Ta’ala. Syukur pada hakekatnya adalah terlihatnya bekas dari nikmat Allah Ta’ala pada lisan seorang hamba yang berwujud pujian dan pengakuan, pada hatinya yang berwujud kesaksian dan kecintaan dan pada anggota badannya yang berwujud ketundukan dan ketaatan”.(madarijus salikin/2/246)

Jadi lisan kita hendaknya senantiasa mengucapkan puji-pujian kepada Allah dan menyampaikan testimoni bahwa semua kenikmatan pada diri kita adalah berasal dari Allah. Di samping itu hati kita hendaknya senantiasa meyakininya dan menjadi saksi atas kemurahan Allah serta semakin mencintai Allah sebagai sang pemberi nikmat. Rasa syukur kita hendaknya senantiasa kita buktikan dalam tindakan nyata, di mana kita semakin tunduk dan patuh dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Teladan kita dalam hal ini adalah Rasulullah saw…, Lisan beliau senantiasa basah dengan zikir dan puji-pujian kepada Allah, hati beliau penuh dengan keimanan dan kecintaan yang besar kepada Allah, serta fisik beliau tidak pernah berhenti beribadah kepada Allah meski dalam keadaan lelah dan sakit. Aisyah ra. menuturkan,”Rasulullah saw… selalu melakukan qiyamullail sehingga bengkak kedua kaki beliau, lalu aku berkata,”Apakah engkau melakukan semua ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu, baik di masa lalu maupun di masa datang?”. Beliau hanya menjawab,
أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا رواه البخاري ومسلم
“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjadi hamba yang pandai bersyukur adalah pencapaian yang sangat sulit. Karenanya, Allah Ta’ala berfirman,
اعْمَلُوا ءَالَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ(13)
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang pandai bersyukur”. (Saba’:13)

Sebab syukur itu sendiri adalah nikmat dari Allah yang mengharuskan syukur kedua, dan syukur kedua adalah nikmat Allah yang membutuhkan syukur ketiga, dan begitulah seterusnya. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menyadari kekurangan dan kelemahan kita dalam bersyukur kepada Allah. Pada saat itulah Allah akan memaafkan kita dan memasukkan kita dalam golongan hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur. Diriwayatkan bahwa Musa as. berkata,”Ya Allah bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu sedang nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku begitu melimpah?” Allah berfirman,”Wahai Musa, sekarang kamu telah bersyukur kepada-Ku”.

Hendaknya kita juga senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar memberikan kepada kita kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah saw…,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ (رواه أبو داود وقال الشيخ الألباني : صحيح)
“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa berzikir menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu”. (HR. Abu Dawud)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Kita hendaknya berusaha untuk selalu berterima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita. Karena pandai berterima kasih kepada manusia akan mengantarkan kita menjadi hamba yang pandai bersyukur kepada Allah Ta’ala. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah saw… bersabda,
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ(رواه أبو داود وقال الشيخ الألباني : صحيح)
“Tidak akan bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia”. (HR. Abu Dawud).

Di samping itu, kita harus senantiasa mengingat bahwa hanya dengan syukur kepada Allah berbagai kenikmatan yang ada pada diri kita akan bertahan, bahkan akan terus mengalami peningkatan. Jika tidak, maka semua kenikmatan itu akan sirna dari diri kita, bahkan akan berganti dengan kesengsaraan dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ(7)
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(Ibrahim:7)

Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah agar menghiasi diri kita dengan sabar dan syukur sehingga kita termasuk orang-orang yang bahagia di dunia dan selamat di akhirat.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. وَارْضَ عَن الخُلَفَاءِ الأرْبَعَة أبُو بَكْر وَ عُمَر وَ عُثمَانَ وَ عَلِي وَ عَنْ التَّابِعِيْن وَ تاَبِعِ التَّابِعِيْن وَمَنْ تَبِعَهُم بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدَّيْنِ وَ ارْحَمْنَا مَعَهُمْ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَات .
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.
رَبنَّاَ ظَلَمْناَ أنْفُسَناَ وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَناَ وَتَرْحَمْناَ لَنَكُوْنَنَّ مِنْ الخَاسِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mohon maaf atas segala kehilafan dan kekurangan.

بَارَكَ اللهُ فِى القُرآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَايَّاكُم بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ والذِّكرِ الحَكِيم, اِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيم فَاستَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْم

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ukhuwwah Islamiyyah posting oleh A. Rozak Abuhasan

KESIMPULAN DAN PERNYATAAN PERS MUSYAWARAH `ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2

KESIMPULAN DAN PERNYATAAN PERS MUSYAWARAH `ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2

Apr 22

Posted by ABDUL ROZAK ABUHASAN – SERITANJUNG PALEMBANG

Pernyataan Bersama Musyawarah 4ply
KESIMPULAN DAN PERNYATAAN PERS MUSYAWARAH `ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2
MUSYAWARAH `ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2
MASJID AL-FAJR BANDUNG JAWA BARAT AHAD 30 JUMADAL AWWAL 1433/22 APRIL 2012
“MERUMUSKAN LANGKAH STRATEGIS UNTUK MENYIKAPI PENYESATAN DAN PENGHINAAN PARA PENGANUT SYI`AH”

DIPOSTING OLEH A. ROZAK ABUHASAN

Pernyataan Pers Musyawarah Ulama Ummat Islam Indonesia ke-2

FATWA FORUM `ULAMA UMMAT INDONESIA MENGENAI SYI`AH

FATWA FORUM `ULAMA UMMAT INDONESIA MENGENAI SYI`AH
Menimbang,
Banyaknya Ummat Islam yang meminta kejelasan hukum serta desakan para pemimpin Ormas Islam dan para `Ulama untuk dikeluarkan fatwa tentang Sui`ah yang menganggap ……………
Fatwa FUUI 3ply

%d blogger menyukai ini: