Beranda » Posts tagged 'KHUTBAH JUMAT'

Tag Archives: KHUTBAH JUMAT

JADUAL IMAM DAN KHOTIB JUM`AT TAHUN 2013 MASJID AL-FAJR

JADUAL IMAM DAN KHOTIB JUM`AT TAHUN 2013 MASJID AL-FAJR
Posted by arozakabuhasan on 27 Maret 2013
Posted in: JADUAL KHOTIB JUMAT. Tagged: AROZAKABUHASAN, Jadwal Khotib Imam Jumat, Khotib Jumat, KHUTBAH JUMAT, MASJID ALFAJR, SITUSARA

JADUAL IMAM DAN KHOTIB JUM`AT TAHUN 2013 MASJID AL-FAJR
Posted by a.rozak abuhasan

2013-JADUAL IMAM dan KHOTIB JUMAT
JADUAL KHOTIB DAN IMAM JUM’AT
MASJID AL-FAJR TAHUN 2013

Tgl Bln Tahun Khotib / Imam
04 Jan 2013 KH. Athian Ali M. Da`i, MA
11 Jan 2013 Drs. H. Dedi Rahman
18 Jan 2013 Rahmat Baiquni, ST
25 Jan 2013 H. Wawa Suryana

01 Peb 2013 H. Abdul Hadi
08 Peb 2013 H. Hasyim As`ari
15 Peb 2013 Nashrudin Syarief, MPd.I
22 Peb 2013 Heri Hermawan, Lc

01 Mrt 2013 Drs. H. Uus Muhammad Ruchiat
08 Mrt 2013 H. Dede Ishak Munawar, Lc
15 Mrt 2013 HA. Rozak Abuhasan, MBA (Badal Drs. H.Komarudin Shaleh, MPd.I)
22 Mrt 2013 Aca Sujana
29 Mrt 2013 H. Abu Yahya Purwanto, ST

05 Apr 2013 Drs. H. Dedi Rahman
12 Apr 2013 H. Iwan Hermawan, S.Ag
19 Apr 2013 H. Doddy Koesdijanto (badal H. Atip Latiful Hayat, SH, LLM, Ph.D)
26 Apr 2013 Drs. H. Sholihat

03 Mei 2013 H. Abdul Hadi
10 Mei 2013 H. Ade Saiful Azis, S.Ag
17 Mei 2013 H. Dede Tasmara
24 Mei 2013 Dr. H. Dedeng Rosyidin
31 Met 2013 H. Yusuf Burhanudin, Lc

07 Jun 2013 Drs. H. Taufik Rahman
14 Jun 2013 Kurniadi, SPd
21 Jun 2013 KH. Athian Ali M. Da`i, MA
28 Jun 2013 Dadang Efendi

05 Jul 2013 Prof. DR. KH. Miftah Farid
12 Jul 2013 Drs. H. Tengku Maulana
19 Jul 2013 H. Engkos Kosasih, Lc
26 Jul 2013 Heri Hermawan, LC

02 Agt 2013 H. Hasyim As`ari
09 Agt 2013 H. Ade Saiful Azis, S.Ag
16 Agt 2013 H. Dede Ishak Munawwar, Lc
23 Agt 2013 Aca Sujana
30 Agt 2013 H. Iwan Hermawan, S.Ag

06 Sep 2013 Dr. H. Dedeng Rosydin
13 Sep 2013 Drs. Komarudin Shaleh, M.Pd.I
20 Sep 2013 H. Wawa Suryana
27 Sep 2013 H. Eka Permana Habibillah

04 Okt 2013 H. Engkos Kosasih, Lc
11 Okt 2013 Drs. H. Uus M Ruchiat
18 Okt 2013 Atip Latiful Hayat, SH, LLM, Ph.D
25 Okt 2013 H. Abu Yahya Purwanto, ST

01 Nov 2013 KH. Athian Ali M. Da`i, MA
08 Nov 2013 H. Weri Hermawan, Lc
15 Nov 2013 Rahmat Baiquni, ST
22 Nov 2013 Drs.H. Ade Bunyamin
29 Nov 2013 Kurniadi, SPd

06 Des 2013 H. Dede Ishak Munawwar, Lc
13 Des 2013 Drs. H. Taufik Rahman
20 Des 2013 Nashrudin Syarief, MPd.I
27 Des 2013 H. Yusuf Burhanudin, Lc

KHUTBAH JUMAT AMAR MA`RUF NAHI MUNKAR

KHUTBAH JUMAT AMAR MA`RUF NAHI MUNKAR

Jan 18

Posted by ABDUL ROZAK ABUHASAN – SERITANJUNG PALEMBANG
http://arozakabuhasan.wordpress.com/

KHUTBAH JUMAT AMAR MA`RUF NAHI MUNKAR

KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِ يْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin rahimakumullah
Puji syukur hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat iman, nikmat Islam, rezeki dan kesehatan.

Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah iman dalam hati kita, yang dengan hidayah tersebut, Dia telah menggerakkan kita untuk melangkahkan kaki menuju masjid ini; berkumpul bersama untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at. Semoga Allah Swt. menerima amal ibadah kita semua sebagai ibadah.

Shalawat serta salam semoga Allah curahkan selalu kepada junjungan kita Muhammad SAW, kepada para sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman; amin ya Robbal alamin.
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jama`ah shalat jum’at yang berbahagia.

Selanjutnya, khatib mengajak kita semua termasuk diri khotib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena tidak ada bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak kecuali taqwa. Tidak ada pula derajat kemuliaan yang pantas disematkan kepada seseorang kecuali derajat ketaqwaan. Dengan taqwa kepada Allah inilah kita berupaya menjalani kehidupan sehari-hari kita, untuk keselamatan dunia akhirat.

Ikhwatal Iman rahimakumullah… jama`ah shalat jum’at yang berbahagia.
Jika kita perhatikan dan kita amati, apa yang terjadi disekeliling kita, di tengah masyarakat, kita mendapatkan fenomena yang menjadikan kita semua prihatin.

Sekian banyak bentuk kesyirikan, kezaliman, kejahatan, kemaksiatan yang dengan begitu mudah kita temukan di sekitar kita. Contohnya praktik kesyirikan sudah menjadi suatu yang biasa dilakukan orang. Bahkan dukun, para normal, tukang ramal, ahli zodiak, dan orang-orang semacam mereka, yang jelas-jelas melakukan praktik kesyirikan, dianggap sebagai tokoh panutan dan memiliki tempat terhormat di tengah masyarakat. Contoh lain di antara saudara-saudara kita sudah tidak bisa lagi menghargai nyawa seseorang, tidak bisa menghargai harta orang lain, dan bahkan tidak bisa menghargai kehormatan manusia.

Semua itu terjadi karena mereka telah meninggal-kan Agama yang hanif yaitu agama Islam, mereka menuruti hawa nafsu, terpedaya dan tertipu oleh bujuk rayu setan serta gemerlapnya kehidupan dunia.
Di sisi lain, di antara kaum muslimin sendiri tidak lagi memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap saudaranya sesama muslim, tidak peduli dengan kejadian dan kondisi yang ada, sehingga segala bentuk kemungkaran semakin hari tumbuh subur, dan sebaliknya segala bentuk kebaikan mulai terkikis dan asing.

Orang-orang yang ingin selalu konsisten dan istiqamah menjalankan agama dengan benar menjadi asing di tengah masyarakatnya. Sikap keislaman yang baik terkesan batil dan begitu juga sebaliknya. Yang sunah dan sesuai dengan contoh Rasulullah Saw. dianggap sebagai sikap beragama yang ekstrim, dan sebaliknya yang bid’ah dianggap sebagai jalan kebenaran sejati.

Semua itu adalah karena yang menjadi tolok ukur beragama adalah perasaan dan keridhaan manusia, bukan keridhaan Allah Swt. Padahal Rasulullah Saw. telah memperingatkan kita semua dari sikap timpang semacam ini sebagaimana sabda beliau,
مَنِ الْتَمَسَ رِضَا الله بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ الله مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ الله وَكَلَهُ الله إِلَى النَّاسِ.
“Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (mengacuhkan) kebencian manusia maka Allah mencukupkannya dari beban manusia, dan barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan (mengesampingkan) kemurkaan Allah maka Allah akan menguasakan manusia atas dirinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2414 dan dishahihkan oleh al-Albani).

Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Sebegitu hebat kemungkaran yang telah dianggap biasa di tengah masyarakat kita, sampai yang baik menjadi suatu yang dianggap aneh. Orang yang rajin shalat berjamaah aneh, kaum muslimah yang mengenakan hijab sesuai syariat aneh, rajin ke tempat-tempat pengajian atau majelis-majelis ta`lim aneh, dan semua yang sebenarnya adalah tepat sebagaimana yang diridhai Allah Subahanahu wa Ta’ala, menjadi suatu yang aneh dan asing.

Maka sungguh benar sabda Rasulullah Saw. :
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ، الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِيْ مِنْ سُنَّتِيْ
“Islam mulanya dianggap aneh (asing) dan akan kembali dianggap asing seperti semula. Maka kabar gembira yang besar bagi orang-orang yang dianggap aneh (asing), yaitu, orang-orang yang memperbaiki (menjalankan dengan baik) perkara-perkara sunahku yang telah dirusak orang-orang setelahku.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Hal ini hendaknya menjadikan kita mawas diri dan berusaha menjadikan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita untuk selalu menjaga kemurnian agama, dengan senantiasa menegakkan kebenaran dan mencegah setiap bentuk kemungkaran.
Rasulullah Saw. bersabda,
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُوْدِ الله وَالْوَاقِعِ فِيْهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِيْنَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوْا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوْا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا؛ فَإِنْ يَتْرُكُوْهُمْ وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعًا وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيْدِيْهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعًا.
“Perumpamaan orang yang teguh dalam menjalankan hukum-hukum Allah dan orang yang terjerumus di dalamnya, adalah seperti sekelompok orang yang berada di dalam sebuah kapal, ada yang mendapatkan tempat di atas melewati orang-orang yang di atas, dan ada yang memperoleh tempat di bawah. Sedang yang di bawah jika mereka berkata, ‘Lebih baik kita melobangi tempat di bagian kita ini (bagian bawah), supaya tidak mengganggu kawan-kawan kita yang di atas.’ Rasulullah bersabda, ‘Maka jika mereka yang di atas membiarkan orang yang di bawah (melakukan hal itu), pasti binasalah semua orang yang ada di dalam perahu tersebut, namun apabila mereka mencegahnya mereka semua akan selamat’.” (HR. Al-Bukhari no. 2493).

Jamaah salat Jumat rahimakumullah
Jika kita renungkan dalam perumpamaan yang disabdakan oleh Nabi Saw. ini, maka kita akan mendapatkan gambaran yang jelas tentang keutamaan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan jahat dan mungkar, yang kita kenal dalam istilah amar ma’ruf nahi munkar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلآَأَوْلاَدُهُم مِّنَ اللهِ شَيْئًا وَأُوْلاَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ
“Kalian adalah umat yang terbaik yang pernah dilahirkan untuk manusia, karena menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar,dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)
Apabila kemungkaran dibiarkan, maka ilmu Agama akan semakin redup di tengah masyarakat dan kejahilan justru akan semakin merajalela, karena apabila kemaksiatan demi kemaksiatan begitu saja dilakukan orang, dan dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha untuk merubahnya, maka masyarakat yang memang minim dengan ilmu agama akan menganggap itu semua sebagai suatu yang bukan maksiat.

Mendiamkan maksiat boleh jadi akan menyebabkan kemaksiatan menjadi suatu yang bagus dalam pandangan masyarakat luas, sehingga sebagian masyarakat akan meniru perbuatan pelaku maksiat karena menganggapnya sebagai sesuatu yang bagus.” (Dikutip dari Tafsir as-Sa’di secara ringkas dan adaptasi, Ali Imran: 78-79).
Jamaah salat Jumat rahimakumullah

Oleh karena itu, amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban setiap muslim yang paling utama, yang akan menjadi jalan keselamatan dan menghindarkan dari murka Allah, di dunia maupun di akhirat. amar ma’ruf nahi munkar harus tegak, dalam segala tataran masyarakat, baik sosial, individu, keluarga, masyarakat, nasional bahkan internasional. Kita harus senantiasa ingat bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah perintah Allah, yang mana Allah menjanjikan keberuntungan bagi kita bila menegakkannya.

Perhatikan Firman-Nya berikut ini,
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali-Imran: 104)
بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا الله مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ الله لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kepedulian kita untuk merubah kemungkaran, adalah salah satu di antara barometer keimanan kita.
Kita memohon kepada Allah agar diberi kekuatan bashirah, kekuatan hati, kekuatan ilmu, kekuatan lisan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, yang ma’ruf dan yang mungkar, kemudian kita bersama-sama menegakkan yang ma’ruf dan memberantas segala bentuk kemungkaran dan kebatilan. Semoga Allah menggolongkan kita sebagai mukmin sejati, melimpahkan rahmat bagi kita, dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang beruntung.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَىمُحَمَّدٍ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَ آخِرُ دَعْوَانَا الْحَمْدُِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من
الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم

Assalamu`alaikum Wr. Wb

Penulis: Ustadz Husnul Yaqin, Lc.
Sumber: Khutbah Jum’at Pilihan Setahun, Jilid 2, 1432 H/2011 M, Darul Haq, Jakarta, dengan beberapa penyuntingan seperlunya oleh redaksi http://www.khotbahjumat.com
Artikel http://www.khotbahjumat.com

Di edit ULANG untuk Khutbah Jumat / Tausiyah
Oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

http://arozakabuhasan.wordpress.com/

20130111-Amar Ma`ruf Nahi Munkar

SERTIFIKASI ULAMA, HARUSKAH ?

Sep 15

SERTIFIKASI ULAMA, HARUSKAH ? IMG
Posting by : A. Rozak Abuhasan

Bandung, Al Fajr, Sabtu (15/9)

Gonjang-ganjing ide sertifikasi ulama cukup menghangat pekan-pekan terakhir ini. Sertifikasi bukan sembarang sertifikasi, yang menjadi hangat dan heboh diperbincangkan karena yang akan disertifikasi adalah ulama. Haruskan Ulama disertifikasi?

Kaitan dengan ini wartawan Republika berhasil menghubungi Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), K.H. Athian Ali M. Da`i, MA (Senin 10/9) terkait Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengusulkan adanya sertifikasi bagi para pemuka agama Islam di Indonesia sebagai bagian dari proses deradikalisasi.

Ketua FUUI, Athian Ali menilai ide tersebut semakin memperkeruh hubungan antara kelompok ulama dengan pemerintah. Ini sudah semakin menohok dan menyudutkan para ulama. Dengan ide itu seakan-akan para ulama menjadi dalang dari adanya aksi terorisme di Indonesia, tegasnya.

Athian menambahkan selama ini para ulama sudah bersabar sekian lama karena kerap dituding terlibat dalam kasus-kasus terorisme di Indonesia. Kemudian muncul ide harus diadakannya sertifikasi bagi para ulama dari BNPT, menurutnya sudah sangat “menghina dan melecehkan” para ulama. Ide untuk sertifikasi para ulama, ia melanjutkan, merupakan sebuah fitnah dari pemerintah melalui BNPT yang dianggap memberikan ajaran-ajaran kekerasan hingga menimbulkan terorisme.

Adanya ide inipun akan semakin memojokkan Islam dalam pemberantasan terorisme. Untuk menanggapi adanya ide sertifikasi para ulama tersebut, FUUI akan membentuk tim independen untukmelakukan investigasi terkait kasus-kasus terorisme pada bulan ini.

Hasil dari tim ini akan diberikan kepada pemerintah sebagai masukan alternatif. Sehingga pemerintah tidak hanya mendapat masukan dari satu pihak saja dalam hal ini BNPT. “Pemerintah harus mendengarkan lebih banyak masukan. Ini jelas-jelas sudah sangat memojokkan umat Islam”, tegasnya.

Demikian hasil wawancara melalui sambungan telepon yang dimuat Republikaonline (Senin 10/9).

Sementara itu, pada hari yang sama (Senin, 10/9), melalui BJ:UstGrup yang disebar melalui sms, Athian Ali mengatakan: sudah lama saya mengusulkan :

Para Ulama & Ilmuan Muslim berkumpul untuk membentuk “Tim Investigasi Anti Terorisme”, diantara yang harus diinvestigasi adalah BNPT yang nampak begitu gencar menyebarkan fitnah-fitnah keji kepada Islam & para ulama;

Ummat di berbagai daerah, atau disatukan di Jakarta, hanya untuk “satu” agenda, “Berdoa kepada Allah SWT” agar Allah SWT memberikan hidayah, atau segera menurunkan azab kepada para dalang Terorisme di Indonesia dan embahnya di AS, agar fitnah keji kepada Islam dan Ummat Islam ini segera berhenti. Supaya mereka sadar, kita tidak rela difitnah terus seperti ini

Banyak respon positif sebagai dukungan dari berbagai pihak atas edaran sms ini untuk mewujudkan usulannya, ungkap Athian. ***(Tardjono Abu Muas)

KHUTBAH JUMAT : INDAHNYA HIDUP DI BAWAH NAUNGAN SIFAT SABAR DAN SYUKUR


KHUTBAH JUMAT : INDAHNYA HIDUP DI BAWAH NAUNGAN SIFAT SABAR DAN SYUKUR

Jun 8

Posted by ABDUL ROZAK ABUHASAN – SERITANJUNG PALEMBANG

KHOTBAH JUMAT

MATERI

Indahnya Hidup di Bawah Naungan
Sifat Sabar dan Syukur

Masjid Al-Fajr
Bandung

SUMBER:

http://www.minbarindo.com/Akhlak_Dan_Moral/Indahnya_Hidup_di_Bawah_Naungan_Sifat_Sabar_Dan_Syukur.aspx

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah

Oleh :
H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

http://arozakabuhasan.wordpress.com/

2012-06-01

KHOTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُبِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا
وِمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُونَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ (3:102)
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً
وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا 4:1
أَمَّا بَعْدُ؛

Kaum muslimin jamaah jumat masjid Al-Fajr rahimakumullah
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan, nikmat rezeki dan kesehatan kepada kita.
Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah itu Allah Swt. telah menggerakkan hati kita untuk melangkahkan kaki kita menuju masjid ini. Sehingga kita bisa berada dalam kebersamaan untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad Saw. Semoga kecintaan kita kepada beliau SAW, dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin.

Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia.
Selanjutnya, izinkanlah khatib mengingatkan kita semua termasuk diri khotib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena tidak ada bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak kecuali TAQWA.
Tidak ada pula derajat kemuliaan yang pantas disematkan kepada seseorang kecuali derajat ketaqwaan… Inna akramakum indallahi atqakum… Dengan taqwa kepada Allah inilah kita berupaya menjalani kehidupan sehari-hari kita.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Sabar dan syukur adalah dua pilar iman yang akan mengantarkan kita sebagai hamba Allah yang paling mengagumkan. Rasulullah saw… bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ رواه مسلم
“Sungguh mengagumkan perihal seorang mukmin. Semua urusannya menjadi baik, dan hal itu tidak terjadi pada seorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapatkan kegembiraan, ia bersyukur, dan hal itu adalah suatu kebaikan baginya. Jika mendapatkan musibah, ia bersabar, dan hal itu adalah suatu kebaikan baginya”.(HR. Muslim)

Sabar sebagaimana kata Ibnul Qayyim rahimahullah- adalah menahan diri jangan sampai panik dan sedih yang berlebihan, menahan lisan jangan sampai berkeluh-kesah, dan menahan anggota badan jangan sampai melakukan tindakan jahil seperti menampar pipi dan menyobek-nyobek baju.
Sabar adalah anugerah terbesar dan terbaik yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Rasulullah saw… bersabda,
وَمَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ )رواه البخاري ومسلم (
“Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Berkat kesabaran seorang hamba akan meraih berbagai kebaikan dan kesuksesan di dunia. Karenanya, Allah memerintahkan kita agar menjadikannya sebagai sarana bantu untuk mewujudkan berbagai kebaikan seraya berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ(153)
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.(Al-Baqarah:153)

Berkat kesabaran, seorang hamba akan mendapatkan pahala yang sempurna tanpa batas. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ(10)
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.(Az-Zumar:10)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Kita harus mampu mewujudkan tiga bentuk kesabaran. Pertama sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menjauhkan diri dari kemaksiatan. Ali bin Thalib ra. berkata,
الصَّبْرُ ثَلاَثَةٌ فَصَبْرٌ عَلَى المُصِيْبَةِ وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَصَبْرٌ عَنِ المَعْصِيَةِ
“Sabar ada tiga; sabar atas musibah, sabar atas ketaatan, dan sabar dari kemaksiatan”.(Uddatu shabirin/1/57)

Kesabaran akan menjadikan kita mampu menghadapi berbagai musibah dan ridha kepada apa yang sudah ditetapkan Allah atas diri kita. Pada saat itulah derajat kita di sisi Allah akan اmengalami kenaikan yang luar biasa. Ali Ra. berkata,
فَمَنْ صَبَرَ عَلَى المُصِيْبَةِ حَتَّى يَرُدَّهَا بِحُسْنِ عَزَائِهَا كَتَبَ اللهُ لَهُ ثَلاَثَمِائَةِ دَرَجَةٍ
“Barangsiapa bersabar atas musibah hingga Allah mengembalikannya dengan kebahagiaan, Allah akan menuliskan untuknya tiga ratus derajat”.

Kesabaran juga akan menjadikan kita mampu melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sebaik-baiknya. Pada saat itulah derajat kita di sisi Allah akan mengalami peningkatan. Ali Ra. berkata,
“وَمَنْ صَبَرَ عَلَى الطَّاعَةِ حَتَّى يُؤَدِّيَهَا كَمَا أَمَرَ اللهُ كَتَبَ اللهُ لَهُ سِتَّمِائَةِ دَرَجَةٍ
“Barangsiapa bersabar atas ketaatan sehingga ia menunaikannya sebagaimana diperintahkan Allah, Allah akan menuliskan untuknya enam ratus derajat”.

Kesabaran akan menjadikan kita mampu menghindarkan diri dari kemaksiatan dan semua yang diharamkan Allah meski nafsu syahwat kita sangat menginginkannya. Kesabaran ini juga akan meninggikan derajat kita di sisi Allah. Ali ra. berkata,
وَمَنْ صَبَرَ عَنِ المَعْصِيَةِ خَوْفًا مِنَ اللهِ وَرَجَاءَ مَا عِنْدَهُ كَتَبَ اللهُ لَهُ تِسْعَمِائَةِ دَرَجَةٍ
“Barangsiapa bersabar dari kemaksiatan karena takut kepada Allah dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, Allah akan menuliskan untuknya sembilan ratus derajat”.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Di samping merealisasikan kesabaran, kita juga harus mampu menghiasi diri kita dengan sikap syukur kepada Allah Ta’ala. Syukur pada hakekatnya adalah terlihatnya bekas dari nikmat Allah Ta’ala pada lisan seorang hamba yang berwujud pujian dan pengakuan, pada hatinya yang berwujud kesaksian dan kecintaan dan pada anggota badannya yang berwujud ketundukan dan ketaatan”.(madarijus salikin/2/246)

Jadi lisan kita hendaknya senantiasa mengucapkan puji-pujian kepada Allah dan menyampaikan testimoni bahwa semua kenikmatan pada diri kita adalah berasal dari Allah. Di samping itu hati kita hendaknya senantiasa meyakininya dan menjadi saksi atas kemurahan Allah serta semakin mencintai Allah sebagai sang pemberi nikmat. Rasa syukur kita hendaknya senantiasa kita buktikan dalam tindakan nyata, di mana kita semakin tunduk dan patuh dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Teladan kita dalam hal ini adalah Rasulullah saw…, Lisan beliau senantiasa basah dengan zikir dan puji-pujian kepada Allah, hati beliau penuh dengan keimanan dan kecintaan yang besar kepada Allah, serta fisik beliau tidak pernah berhenti beribadah kepada Allah meski dalam keadaan lelah dan sakit. Aisyah ra. menuturkan,”Rasulullah saw… selalu melakukan qiyamullail sehingga bengkak kedua kaki beliau, lalu aku berkata,”Apakah engkau melakukan semua ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu, baik di masa lalu maupun di masa datang?”. Beliau hanya menjawab,
أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا رواه البخاري ومسلم
“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjadi hamba yang pandai bersyukur adalah pencapaian yang sangat sulit. Karenanya, Allah Ta’ala berfirman,
اعْمَلُوا ءَالَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ(13)
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang pandai bersyukur”. (Saba’:13)

Sebab syukur itu sendiri adalah nikmat dari Allah yang mengharuskan syukur kedua, dan syukur kedua adalah nikmat Allah yang membutuhkan syukur ketiga, dan begitulah seterusnya. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menyadari kekurangan dan kelemahan kita dalam bersyukur kepada Allah. Pada saat itulah Allah akan memaafkan kita dan memasukkan kita dalam golongan hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur. Diriwayatkan bahwa Musa as. berkata,”Ya Allah bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu sedang nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku begitu melimpah?” Allah berfirman,”Wahai Musa, sekarang kamu telah bersyukur kepada-Ku”.

Hendaknya kita juga senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar memberikan kepada kita kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah saw…,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ (رواه أبو داود وقال الشيخ الألباني : صحيح)
“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa berzikir menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu”. (HR. Abu Dawud)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Kita hendaknya berusaha untuk selalu berterima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita. Karena pandai berterima kasih kepada manusia akan mengantarkan kita menjadi hamba yang pandai bersyukur kepada Allah Ta’ala. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah saw… bersabda,
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ(رواه أبو داود وقال الشيخ الألباني : صحيح)
“Tidak akan bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia”. (HR. Abu Dawud).

Di samping itu, kita harus senantiasa mengingat bahwa hanya dengan syukur kepada Allah berbagai kenikmatan yang ada pada diri kita akan bertahan, bahkan akan terus mengalami peningkatan. Jika tidak, maka semua kenikmatan itu akan sirna dari diri kita, bahkan akan berganti dengan kesengsaraan dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ(7)
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(Ibrahim:7)

Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah agar menghiasi diri kita dengan sabar dan syukur sehingga kita termasuk orang-orang yang bahagia di dunia dan selamat di akhirat.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. وَارْضَ عَن الخُلَفَاءِ الأرْبَعَة أبُو بَكْر وَ عُمَر وَ عُثمَانَ وَ عَلِي وَ عَنْ التَّابِعِيْن وَ تاَبِعِ التَّابِعِيْن وَمَنْ تَبِعَهُم بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدَّيْنِ وَ ارْحَمْنَا مَعَهُمْ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَات .
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.
رَبنَّاَ ظَلَمْناَ أنْفُسَناَ وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَناَ وَتَرْحَمْناَ لَنَكُوْنَنَّ مِنْ الخَاسِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mohon maaf atas segala kehilafan dan kekurangan.

بَارَكَ اللهُ فِى القُرآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَايَّاكُم بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ والذِّكرِ الحَكِيم, اِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيم فَاستَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْم

Assalamualaikum Wr. Wb.

KHUTBAH JUMAT : MENELADANI RASULULLAH SAW. SEUTUHNYA

20110930-MENELADANI RASULULLAH SAW SEUTUHNYA

KHOTBAH JUMAT

MATERI

MENELADANI RASULULLAH SAW SEUTUHNYA

Masjid Al-Fajr
Bandung

SUMBER:
era muslim
oleh Muhammad Setiawan

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah

Oleh :

H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

http://arozakabuhasan.wordpress.com/

2011-09-30

KHOTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُبِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وِمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
اَشْهَدُ اَنْ لآَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّهُمَّ صَلِّى عَلىَ مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَصَحـْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُونَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ (3:102) أَمَّا بَعْدُ؛

Kaum muslimin rahimakumullah . Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan dan kesehatan kepada kita.
Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah tersebut, Allah SWT telah menggerakkan hati kita untuk melangkahkan kaki kita menuju masjid ini. Sehingga kita bisa berkumpul bersama untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at ini.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad shallaLlahu alayhi wa sallam. Semoga kecintaan kita kepada beliau SAW, dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin.
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia. Selanjutnya, izinkanlah khatib mengingatkan kita semua termasuk diri khotib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena tidak ada bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak kecuali taqwa.
Tidak ada pula derajat kemuliaan yang pantas disematkan kepada seseorang kecuali derajat ketaqwaan… Inna akramakum indaLlahi atqakum… Dengan taqwa kepada Allah inilah kita berupaya menjalani kehidupan sehari-hari kita.

Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia
Di bulan Rabi’ul Awwal ini, masyarakat kita terbiasa memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Berbagai acara diselenggarakan untuk memeriahkan hari tersebut. Bahkan istana Negara sejak masa pemerintahan Bung Karno hingga hari ini telah rutin menyelenggarakan acara untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Berbagai ekspresi kecintaan diungkapkan.
Berbagai nasihat untuk meneladani kehidupan Rasulullah saw. juga telah sering disampaikan. Namun, sudahkah berbagai kegiatan /ajakan tersebut telah menghantarkan ummat ini untuk sungguh-sungguh meneladani Rasulullah SAW ? Atau akhirnya, ia hanya menjadi seremoni hampa tanpa makna.
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia. Rasulullah SAW tidak pernah meminta ummatnya untuk merayakan hari lahirnya. Tidak pula para sahabat nabi, yang jelas-jelas mereka adalah kaum yang mencintai Rasulullah SAW. Akan tetapi, upaya meneladani kehidupan Rasulullah SAW. sebagaimana yang sering dinasihatkan dalam peringatan Maulid Nabi adalah sesuatu yang sangat penting. Karena, sesungguhnya keimanan kita kepada Allah Ta’ala, tidak akan sempurna sebelum kita menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21)
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab [33] : 21)
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa mereka yang meneladani RasuluLlah SAW adalah mereka yang lurus Tauhidnya kepada Allah. Mereka yang selalu mengharapkan keridhaan Allah dan balasan terbaik di kampung akhirat. Mereka yang menghiasi hari-harinya dengan banyak mengingat Allah SWT.
Bahkan dalam ayat Al-Qur’an lainnya, Allah Ta’ala menegaskan bahwa syarat mendapatkan cinta-Nya adalah mengikuti jejak langkah (sunnah) Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31)
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran [3] : 31)
Untuk itu mengikuti sunnah Rasulullah SAW adalah kewajiban asasi bagi setiap muslim. Ini merupakan konsekwensi dari syahadat kita yang kedua, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Mengikuti sunnah Rasulullah saw. juga merupakan jalan keselamatan dalam kehidupan akhir zaman.

Jamaah shalat Jum’at yang semoga dirahmati Allah. Rasulullah saw bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Irbadh ibn Sariyyah radhiyaLlahu ‘anhu,
قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الْأَنِفِ حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ
“Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa di antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Hendaklah kalian taat meski kepada seorang budak Habasyi. Orang mukmin itu seperti seekor unta jinak, di mana saja dia diikat dia akan menurutinya.” (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dalam sunannya nomor 43, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya nomor 16519)
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia. Sesungguhnya yang dimaksud dengan sunnah Rasulullah SAW bukanlah hal-hal tertentu saja dalam kehidupan Rasulullah SAW. Bukan terbatas dalam masalah ubudiyyah (shalat, zakat, shaum dan sejenisnya) saja.
Akan tetapi seluruh kehidupan Rasulullah adalah sunnah yang harus diikuti. Karena tidak ada satu pun ucapan dan perbuatan Rasulullah SAW yang keliru. Seluruh segi kehidupan Rasulullah SAW telah terbimbing dengan wahyu.
َمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm [53] : 3-4)
Bahkan dahulu para sahabat Rasulullah saw sangat memperhatikan dan meneladani kehidupan Rasulullah saw hingga sampai pada masalah-masalah yang kita anggap remeh dan sepele.

Untuk itu Ikhwatal Iman rahimakumullah, kita tidak boleh memilih-milih aspek tertentu saja dalam meneladani Rasulullah saw. Tidak boleh kita parsial dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah saw ini. Karena sesungguhnya, mengamalkan sunnah Rasulullah saw secara utuh adalah jalan agar kita meraih jannah yang dijanjikan Allah Ta’ala.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, ” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku (mengikuti aku) masuk surga dan siapa yang menyelisihi aku berarti ia enggan.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya nomor 6737)
Maasyiral muslimin rahimakumullah… Karena itu, marilah kita meneladani seluruh aspek kehidupan Rasulullah SW. Kita meneladani ibadah beliau SAW. Sebagai contoh misalnya, bagaimana Rasulullah SAW sangat memperhatikan shalat lima waktu, dan berjamaah di masjid dalam melaksanakannya. Hingga dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda :
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُم
Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya (Allah Ta’ala), sungguh aku sangat ingin untuk memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan, dan orang lain aku perintahkan untuk meng-imam-kan manusia (kaum muslimin). Kemudian aku akan pergi ke rumah para lelaki yang tidak menghadiri shalat berjama’ah dan aku bakar rumah-rumah mereka. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya, no 608)
Demikian marahnya Rasulullah saw kepada para laki-laki yang terbiasa tidak hadir shalat berjamaah di masjid, hingga Rasulullah berkeinginan untuk membakar rumah mereka. Karena itu jika memang betul kita mencintai Rasulullah SAW, hendaknya kita berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk shalat berjama’ah di masjid. Jangan biarkan masjid-masjid kita kosong. Jika kita tidak bisa hadir berjama’ah di masjid pada waktu siang dan sore, setidaknya hadirilah shalat berjama’ah di waktu shubuh. Jangan sampai muncul benih-benih kemunafikan dalam jiwa kita karena tidak biasa hadir shalat shubuh berjama’ah.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم


KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ صَلَاةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنْ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
Dari Abu Hurairayrah radhiyaLlahu ‘anhu, beliau berkata, “Telah bersabda RasuluLlah SAW, “Tidak lah ada shalat yang lebih memberatkan bagi orang-orang munafiq kecuali shalat Shubuh dan Isya’. Kalau saja mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatangi keduanya (masjid) walaupun dengan merangkak. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya, no 617)
Jamaah shalat jum’at yang berbahagia. Kita teladani pula ketegasan Rasulullah saw dalam perkara aqidah. Beliau saw. menolak mengakui kebenaran agama lain dan menolak pula beribadah dengan cara agama lain. Allah SWT berfirman : إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَام
Sesungguhnya diin di sisi Allah adalah Islam. (QS. Ali Imran [3] : 19)
Beliau SAW juga tidak mau ada faktor-faktor yang dapat menyebabkan rusaknya aqidah ummat ini. Karena itu Rasulullah SAW pernah merobohkan masjid yang dibangun oleh orang-orang munafiqin yang disebut sebagai masjid Dhirar. Rasulullah SAW juga memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk membunuh Nabi palsu yang hidup pada masa itu, Musailamah al-Kadzab. Jelas, tidak ada kompromi untuk masalah aqidah ini.
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia. Selain itu, mari kita teladani pula ketegasan Rasulullah saw. urusan penegakan hukum syariat. Tidak ada seorang pun yang istimewa di hadapan hukum. Tidak ada yang kebal dan boleh mempermainkan hukum. Sampai-sampai Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَ إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ قَطَعُوهُ لَوْ كَانَتْ فَاطِمَةُ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Sesungguhnya kaum Bani Israil memiliki kebiasaan, jika mencuri salah seorang yang terhormat di kalangan mereka, maka mereka akan membiarkannya (tidak menghukumnya). Sedangkan jika yang mencuri adalah orang yang lemah maka mereka memotongnya (menghukumnya). Sungguh, jika Fathimah (binti Muhammad, puteri Rasulullah saw) mencuri niscaya aku akan potong tangannya. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya nomor 3526)
Rasulullah saw menerapkan hukum Islam secara paripurna. Dalam seluruh aspek kehidupan. Baik itu politik pemerintahan, hukum jinayat (pidana) hingga hukum yang terkait dengan masalah keluarga. Karena itu jika kita ingin meneladani Rasulullah saw berusahalah sekuat kemampuan agar tegak pula hukum Allah secara sempurna dalam kehidupan kita. Keinginan kuat agar kita berhukum dengan syariat Allah ini merupakan bukti keimanan kita.
Semoga dengan upaya kita yang sungguh-sungguh dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah SAW, dan menjadikan sunnah tersebut sebagai manhajul hayah (cara hidup) kita, Allah SWT memberikan kesuksesan dan keselamatan dalam kehidupan kita. Baik di dunia maupun di akhirat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita berdoa, memohon kepada Allah Swt. :

 Ya Allah pelihara iman kami dan berikan kepada kami kesempatan merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini yaitu dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah saw. dengan sebaik-baiknya, sebelum Engkau panggil kami untuk menghadap-MU.
 Ya Allah peliharakan hati dan pendengaran kami agar tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang merusak amal ibadah yang telah dan akan kami lakukan.
 Ya Allah himpunkan kami kelak di syurga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin sebagaimana Engkau himpunkan kami di tempat yang mulia ini.
 اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ

 Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan.
 Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan.
 Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampunan.
 Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat.
 Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki.
 Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir
 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
 Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mohon maaf atas segala kehilafan dan kekurangan.
Penutup khotbah kedua
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من
الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم
Assalamu`alaikum Wr. Wb

KHUTBAH JUMAT KH ATHIAN ALI M.DA`I LC MA DI MASJID SALMAN ITB BANDUNG

KHUTBAH JUMAT DI MASJID SALMAN ITB BANDUNG

Khutbah Jumat

Athian Ali di Masjid Salman ITB

April 10, 2010 by yuamar

Ustadz Athian Ali mengisi khutbah jumat pada tanggal 9 April 2010 di Masjid Salman. Apa yang dibawakan oleh Pa Athian Ali begitu dalam dan

Masjid Salman ITB

menyentuh. Beliau menyampaikan khutbah tentang dosa yang kita lakukan. Berikut intisari khutbah yang disampaikannya :

Setiap mukmin meyakini bahwa Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia yang memiliki Kekuatan. Kita sebagai mukmin tidak memiliki daya apapun, karena semua yang kita lakukan dan usahakan melalui potensi kita adalah pemberian-Nya. Manusia hanya bisa berusaha dan berikhtiar, akan tetapi Allah yang menentukan segalanya. Dia yang mempunyai wewengan untuk memberikan hasilnya kepada kita. Semua terjadi karena Allah Menghendakinya.

Kun fayakun”.(Jadilah, maka terjadilah).

Selain berikhtiar, manusia juga berdoa agar usahanya itu dapat menghasilkan sesuatu seperti yag diharapkannya. Manusia berdoa kepada Allah agar dikabulkan doanya dan mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tetapi kenapa, ada doa yang tidak dikabulkan oleh Allah. Mungkin ada yang bertanya, bukankah Allah telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-hambanya?

Berdoalah kepadaku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” Al-Mu’min, 40:60.

Allah tidak akan pernah ingkar kepada hamba-Nya. Setiap mukmin harus meyakini hal ini bahwa Allah tidak akan pernah lupa terhadap janji-Nya. Hanya, Allah memiliki wewenang terhadap hal ini. Pak Athian Ali mengatakan, ada tiga hal yang menyebabkan doa tidak dikabulkan, yaitu :

1.  Allah memang belum mengabulkan doa kita dan menundanya

Allah masih ingin menguji hamba-Nya apakah lebih mencintai Allah atau sesuatu yang dimintai dalam doanya. Allah masih ingin membuktikan keimanan hamba-Nya, sehingga menunda untuk mengabulkan doa kita.

2.  Allah telah mengabulkan doanya dengan memberi sesuatu yang lebih baik

Allah mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut Allah baik dan apa yang menurut kita tidak baik, juga belum tentu itu tidak baik di sisi Allah.

Allah lebih Mengetahui apa yang sebaiknya ditetapkan bagi hamba-Nya. Allah tidak mengabulkan keinginannya, karena bisa jadi jika mengabulkannya akan membuat dia semakin jauh dari-Nya, seperti kisah Karun yang terdapat surat Al-Qasas,28 : 76-81. Karun mendapatkan harta dan kekayaan dari Allah, tapi itu justru membuatnya ingkar kepada-Nya, sehingga Allah akhirnya membenamkan Karun beserta seluruh hartanya ke dalam bumi.

Pasti ada hikmah lain yang akan menjadi kebaikan bagi diri kita, karena doa kita yang tidak dikabulkan. Mungkin doa kita belum baik, ataupun niat kita belum sempurna.

3. Yang berdoa tidak baik dan tidak dalam keadaan suci kepada Allah

Jika orang yang buang angin saja tidak boleh shalat sebelum dia berwudlu kembali. Jika orang yang buang air kecil atau besar juga harus berwudlu sebelum melakukan shalat. Jika perempuan yang haid saja, diharamkan untuk shalat dan puasa sebelum perempuan itu suci dari haid, padahal haid itu adalah fitrah dari Allah. Jika pasangan suami istri yang berhubungan badan, juga tidak boleh shalat sebelum mandi junub.

Dan karena jika-jika yang tadi, maka orang yang berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah, dia juga tidak boleh mendekat kepada-Nya, sebelum dia suci atau baik. Rasulullah pernah berkata bahwa Allah itu baik dan suci, maka Allah tidak menerima sesuatu kecuali sesuatu itu baik dan suci pula. Jadi kita harus suci dan bersih dari segala hal terlebih dahulu dari yang dilarang-Nya jika doa-doa kita ingin dikabulkan oleh Allah.

Lebih lanjut Pak Athian Ali menyampaikan bahwa dosa itu terbagi menjadi dua, yaitu dosa yang hubungannya antara diri kita dengan Allah dan dosa yang menyangkut orang lain. Untuk yang pertama, urusannya hanya dengan Allah. Kita bertaubat langsung kepada Allah atas segala dosa-dosa kita. Misalkan kita tidak shalat, maka urusannya langsung dengan Allah dan kita bertaubat langsung kepada-Nya.

Akan tetapi untuk dosa yang berhubungan dengan orang lain, maka urusannya tidak hanya kepada Allah, tetapi juga kepada orang yang kita zalimi itu. Kita selesaikan urusan kita dengannya, baru kita bisa bertaubat kepada Allah. Islam sangat menghargai hak-hak orang yang dizalimi. Jika kita meyakiti orang lain, maka mohon maaf dulu kepada yang orang itu, sebelum kita bertaubat kepada Allah.

Pa Athian Ali, juga menyinggung tentang para koruptor. Dosa yang dilakukan oleh para koruptor adalah terkait dengan banyak orang, karena mencuri uang negara. Dosa ini menyangkut kepada orang banyak. Jika ingin bertaubat, maka para koruptor harus menyelesaikan masalahnya dengan rakyat yang telah dikorup. Bagaimana caranya ? Bisa saja koruptor tampil di televisi melakukan jumpa pers atau membuat pernyataan di media cetak dengan mengatakan bahwa dia memohon maaf karena telah melakukan korupsi dan bersedia untuk mengembalikan seluruh uang yang dikorupsinya serta akan menyerahkan diri untuk diperiksa sesuai hukum yang berlaku.

Jika tidak demikian, maka para koruptor akan semakin banyak. Orang tinggal pergi umrah dan menangis di Multazam untuk bertaubat, tapi setelah itu melakukan korupsi lagi dan menikmati hasil korupsinya itu.

Selain itu kepada orang tua, kita juga harus terbebas dari dosa dengan kedua orang tua kita. Jangan sampai orang tua tidak membebaskan kesalahan-kesalahan kita, sehingga berkah Allah tidak dibukakan kepada kita. Ridho Allah tergantung kepada ridho kedua orang tua kita dan murka Allah tergantung kepada murka kedua orang tua kita.

Begitulah isi khutbah Pa Athian Ali. Ini menjadi renungan untuk kita semua. Apakah kita telah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam berikhtiar ? Jika sudah, apakah kita menyertai dengan doa? Sudahkah kita yakin kepada Allah, bahwa Dia tidak akan pernah ingkar akan janji-Nya?

Jika doa kita belum dikabulkan, apakah kita menyadari bahwa bisa jadi Allah sebenarnya akan lebih menguji akan keimanan kita kepada-Nya? Apakah kita sadar bahwa bisa jadi Allah telah memberikan yang lain dan itu menjadi yang terbaik bagi kita? Dan apakah kita sadar, bisa jadi doa kita belum dikabulkan karena masih banyak maksiat yang dilakukan?

Semoga, kita termasuk orang yang senantiasa membersihkan diri kita sehingga bisa semakin dekat dengan-Nya.

Liked You like this post.
sumber:  yuamar`s.wordpress.com
%d blogger menyukai ini: